RSS

Internal Painting pada dinding Internal LNG Storage Tank, apakah perlu?

Beberapa hari yang lalu ada pertanyaan dari teman di forum pribadi kami, “Perlukah dinding Internal LNG Storage Tank dipainting untuk perlindungan anti korosinya? Jika, internal tank tersebut memakai steel dengan kadar 9% Nickel.

image

Diskusi tersebut dilanjutkan dan berikut adalah summarynya, let’s share..

Oke kita bahas dari awal dahulu,

LNG adalah kepanjangan dari Liquefied Natural Gas, atau dalam bahasa indonesia adalah gas alam yang dicairkan, dimana gas alam ini mostly methana. Prosesnya terjadi pada tekanan 100-6000KPa, suhu -160 C.
Proses singkatnya : mengkonversi volume gas di tekanan dan suhu normal menjadi fase liquid dengan volume 1/640 nya.

Dalam proses pencairan ini (perubahan gas menjadi cair), bisa saja ada impurities, impurities bisa saja membuat korosif. Selain itu ingat, di LNG plant ada beberapa proses penting dan korosif, H2O removal, CO2 removal dan H2S removal.

Selanjutnya, untuk material dinding internal LNG Storage Tank dengan kadar 9% Ni, apakah bisa mempengaruhi kekuatan anti korosif dari dinding internal LNG Storage Tank itu sendiri, meskipun tanpa ada tambahan coating/painting?

image

Memang penambahan Ni pada pembuatan besi/baja main purposenya bukan untuk anti korosi, tapi lebih menjadikan material steel tersebut lebih bagus sifat impact temperaturenya (ingat pada proses pencairan LNG diperlukan suhu -160 C). Dan secara fundamental, material dengan temperature yang sangat rendah (cryogenic material) cenderung lebih stabil dan tidak mudah korosi.

Dalam teori metalurgi, semakin tinggi Ni maka akan semakin meningkatkan fasa austenit, dan semakin rendah Ni akan semakin meningkatkan fasa ferit yang bersifat magnetik. Sifat magnetik tersebut berasosiasi dengan corrosivity (tingkat korosinya).

Penambahan Ni juga memberikan sifat ductile (ulet) pada material dan juga chemical resistance.

Sehingga, penambahan Ni juga bisa dikatakan berhubungan dengan anti korosi.

Jadi dapat disimpulkan disini bahwa material dinding internal LNG Storage Tank dengan kadar 9% Ni akan mengconsider mekanisme passivasi, selain itu high pressure & low temperature pada proses pencairan LNG tersebut akan menjadi penghambat untuk terjadinya korosi.

Sehingga, apakah dapat disimpulkan bahwa dinding internal LNG Storage Tank dengan kadar material 9% Ni tidak memerlukan internal painting/coating?
Kalau saya sih Yes! Tidak perlu!, bagaimana dengan anda? 😁

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Agustus 2015 in All about Coating

 

Tag: , ,

Aplikasi anti-skid pada lapisan coating

Anti-skid atau biasa orang-orang menyebutnya sebagai aggregate banyak digunakan pada proyek-proyek konstruksi (umumnya) bangunan laut. Dimana fungsi anti-skid/aggregate adalah sebagai tambahan atau bagian lapisan coating pada walkway agar orang saat berjalan diatasnya tidak mudah terpeleset.

Anti-skid/aggregate yang umum digunakan adalah garnet, silicon, alumunium oxide. Yang memiliki ukuran (mesh) cukup besar sekitar 1mm-2mm.

Lalu bagaimana cara mengaplikasikan anti-skid/aggregate tersebut pada lapisan coating?
Let’s share..

Oke, sekarang contohnya kita punya suatu sistem lapisan painting dengan konfigurasi,
Primer : epoxy primer 100microns.
Second : epoxy high build 250microns.
Third : epoxy high build 250microns.
Top : polyurethane 50microns.

Lakukan surface preparation seperti biasa kemudian dilanjutkan dengan cat primer 100microns lalu tunggu sesuai interval coating-nya sebelum masuk lapisan kedua. Lanjutkan dengan aplikasi second 250micron lalu tunggu sesuai interval coating-nya sebelum masuk lapisan ketiga.

Lanjutkan aplikasi lapisan ketiga dengan spray tipis sekitar 150microns (dari total 250microns yang seharusnya diaplikasi) dan dilanjutkan dengan menaburkan material anti-skid/aggregate saat cat masih basah.

image

*Note: metode yang dipakai pada bahasan ini adalah menaburkan anti-skid/aggregate bisa menggunakan alat khusus, atau bisa menggunakan kaleng/botolkosong yang diberi lubang bagian bawahnya, dan jangan menaburkan dengan tangan kosong (memangnya kita mau memberi makan burung, heheee…).

Setelah semua bagian rata ditaburkan anti-skid/aggregate, lanjutkan dengan spray third coat 100microns sisanya.

image

*Note: saat aplikasi lapisan sisanya ini, jangan sampai melewati waktu wet on wet dari third coat tersebut. Lalu biarkan hingga selesai interval coating-nya sebelum masuk lapisan top coat.
*Note: metode yang lain adalah aplikasi lapisan sisanya ini dilakukan setelah lewat interval coating-nya. Alias tunggu cat sampai kering dulu. Namun kelemahannya jadi lebih lama waktu tunggunya.

image

Sebelum aplikasi top coat, gunakan sapu untuk menghilangkan debu/partikel kecil dari anti-skid/aggregate yang gampang terlepas. Lalu lanjutkan aplikasi top coat seperti biasa.

image

Mungkin itu sedikit sharing untuk aplikasi anti-skid/aggregate dari saya,

Salam coating.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Juli 2015 in All about Coating

 

Tag: ,

Glass Syntetic Polyurethane

Baru saja saya baca ada email salah seorang member milist migas indonesia yang menanyakan tentang GSP (GSPU) coating. Tertarik mengetahui lebih jauh, akhirnya saya coba search lebih jauh dan mendapat beberapa ilmu..
Let’s share..

GSP/GSPU (Glass Syntetic Polyurethane) adalah salah satu jenis thermal insulation yang banyak digunakan untuk menjaga aliran/flow dari pipeline tetap seperti yang diinginkan, selain juga tentunya sebagai corrosion protection. Terutama untuk pipeline yang dipakai di offshore laut dalam.
GSP ini merupakan mixing antara glass dengan syntetic polyurethane, sehingga disebut Glass Syntetic PU.
Hal ini dikarenakan pada kedalaman tertentu, pengaruh suhu disekitar pipeline juga akan mempengaruhi flow didalam pipeline tersebut.
Umumnya temperatur yang dimaintain dalam process ini berkisar antara -35 sampai 115 derajat celcius, dengan kedalaman maksimal dibawah 2800 meter (Sumber: Tenaris.com).

Proses aplikasi cukup mudah, sama dengan coating system pada pipeline umumnya, yaitu pipeline yang akan diberikan lapisan GSP awalnya diblasting, kemudian diberikan primer epoxy bonded, baru finalize dengan glass syntetic polyurethane. Maksimum (Sumber: Brederoshaw.com).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Juli 2013 in 1

 

Tag:

Type of Coating

Type of Coating based on curing / drying time divided to 3 types :

# Physically curing coating

# Oxidation curing coating

# Chemically curing coating

# Physically curing coating are coating which only cure by evaporation of the solvent. Types of Physically cured coating are : Chlorinated Rubber (CR), Tar / Bitumen / Asphalt, Latex / Emulsion, Vinyl acrylic emulsion

# Oxidation curing coating are coating which cure by evaporation + O2 (oxide/oxidation). Types of Oxidation cured coating are : Alkyd, Epoxy Ester, Phenolic, Phenolic Epoxy

# Chemically curing coating are coating which cure by polymerization (chemically induced – agent solvent). Types of chemically cured coating are :

Epoxy (two component),

  • Advantages are : Chemical resistance, Hardness
  • AdhesionLimitations are : Overcoat restriction, color, chalking (if used for top coat)
  • Usually use for/in : Structural steel, vessel linings

Coal Tar Epoxy,

  • Advantages are : Water resistance, chemical resistance
  • Limitations are : Fading / chalking, color only black
  • Usually used for/in : Crude oil tanks, ship, jetty

Epoxy Emulsion,

  • Advantages are : Low solvent color, low toxic, durable
  • Limitations are : Reduced water resistance
  • Usually used for/in : Sensitive environment

Vinyl Ester / Polyester,

  • Advantages are : Excellent gloss, high build, water / acid resistance
  • Limitations are : Shrinkage, Reaction unstable, alkaline conditions
  • Usually used for/in : Tank linings, FRP (GRP) product

Urethane,

  • Advantages are : Water / acid resistance, abrasion resistance, tolerance high RH
  • Limitations are : Pack stability, limited adhesion
  • Usually used for/in : Offshore platform, topcoat over epoxy, wood/concrete floor

Polyurethane,

  • Advantages are : Good chemical/solvent resistance, abrasive resistance, flexibility, color gloss retention
  • Limitations are : Isocyanate component as hazardous
  • Usually used for/in : Tank Linings, floor finishes, gloss over epoxy

Epoxy Phenolic > specialty heat converting one component

  • Usually used for/in : Interior of down hole tubing, process vessels
  • Epoxy Phenolic baking schedule : Set up 95’C (200’F), Final 165′-200’C (325′-500’F)

High bake Phenolic : Vinyl (Butyral) Wash Primer (PVB) > specialty primer uses acid to promote adhesion

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Maret 2013 in All about Coating

 

Modem HUAWEI E220

1 Agustus 2012,

Selamat pagi, good morning,

Pagi ini saya ingin share tentang modem HUAWEI E220 yang barusan saya dapat (beli maksudnya, hehee).

Modem ini saya tebus dengan mahar Rp 130rb, (termasuk ongkos kirim dari Depok ke Batam), murahkan? iyalah, kan second, heheee. Tapi meskipun second, barangnya masih bagus bro, meskipun pembeliannya dari tahun 2010 lho (ada di sticker garansinya). Modem yang saya beli ini terdaftar dengan label “OPTUS”, meskipun saya gak tau apa itu OPTUS, tapi saya yakin ini modem bagus. hehee.. Malam saya transfer uangnya ke seller, selisih 2 hari datang deh modemnya.

Modem datang, langsung saya tes pake kartu tri 3 paket bulanan 500mb. awalnya terasa respon modem berat, susah connectnya, sering putus. akhirnya dengan segala keterbatasan (alah bahasanya) saya coba browsing problemnya. Baca sana sini, ternyata ada yang nyaranin harus update firmware “E220_11.313.02.00.01.B268_Firmware_Update.rar”, dan “Mobile_Partner_11.302.09.01.539_Voice_USSD.zip”. Okelah akhirnya saya coba download firmware2 tadi, dan… eng ing eng, modem langsung lancar dipakenya. kalau untuk ngeblog aja boleh lah modem ini.

Kata orang sih modem ini udah support MDMA (bisa dikodokin), tapi saya pun belum tau artinya apa, hehee. Yang jelas modem ini jalan dengan speed 7,2 Mbps, mantaplaaahh (meskipun koneksi saya cuma mentok di 384 Kbps, jadi tulisan 7,2 Mbps itu cuma hiasan aja,hehee). Modemnya mantap, adem, gak putus2, recomended lah. Cuma ada kurangnya, gak support external antenna coy.

Okelah sampe sini dulu cerita tentang Huawei E220, mau kerja dulu.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Agustus 2012 in Campur-Campur

 

New Welding in an Existing Welding Line (For Repair or Rebuild)

Dear all, this is a sharing from a member of KMI (Indonesia Oil and Gas Community).

The case is,
There is a retubing process for power boiler. Then the client ask to vendor/contractor for cutting the old tube and replace with new one.
The problem is position of cutting for old tube will be same as the new welding line. So, the new welding line position will be same as previous welding joint line existing which got cutting.

Usually, we avoid new welding joint in existing welding line. Some people said that welding in an existing welding line will make structure is not good. Because of microstructure in HAZ will be change, and structure become hardness due to welding process more than one. But if we considering of basic normalishing, it doen’t matter as long as we keep the cooling rate, so that automatically the microstructure will not changed.

But, actually are there any code or rule for that condition? Or, what is the risk if we do that?

And, Yes, ASME allow it. We can refer to ASME VIII; UW-14 (for Pressure Vessel). For Power Boiler refer to ASME I; PW-14. And UW-38 for remove defect.

Beside that, practically it just a simple case. We can cut old tube, ground out old weld joint line and also clean out. Then we do a NDT test to see the crack or defect. If material okay, we can weld it with new tube.

Source : Summary of Indonesia Oil and Gas Mailing List.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2012 in Setetes ilmu untuk anda

 

Tag:

Karbu PE 28 SP Untuk YAMAHA SCORPIO

Selamat pagi.
Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman saya pasang (bukan saya pasang sendiri lho,hehe) Karbu PE 28 SP untuk Yamaha SCORPIO.Btw, terima kasih dulu deh buat teman-teman MiLYS (Mailing List Yamaha Scorpio) atas sharing-sharingnya untuk ilmu2nya :D
 

Bergaya dikit PIO Ganteng

 
Karbu PE 28 SP Ori Tahiland Box Honda ini saya dapat dari Kaskus, dari lapak tiepatkai . Dengan mahar Rp 850.000,- + onkir Surabaya Rp 25.000,-.
Btw, ngomong2 soal biaya, total biaya yang diperlukan adalah :
1. Karbu PE 28 SP Ori Thailand Box Honda (kata yang jual sih, hehhee) + onkir Surabaya Rp 875.000,-
2. Spacer Karbu PE 28 khusus Scorpio beli di Kaskus juga dari lapak nangkabecek + ongkir Rp 84.500,-
3. Alumunium biar Karbu PE 28 bisa pas ke manifold pesen di bengkel deket rumah Rp 40.000,-
4. Spuyer MJ rojokan beli dibengkel deket rumah Rp 5.000,-
Total kalau pasang karbu sendiri adalah Rp 1.045.000,- + Ongkos pasang dibengkel Rp 30.000,-
 
 
Langsung aja deh ke langkah2 pasang Karbu ini, gampang kok pasangnya (cuma settingnya nanti yang susah, hehehe). Jadi gini langkah2 pasang Karbu PE 28 SP ini :
1. Copot Karbu Vakum Yamaha Scorpio (Mikuni 30mm), dengan cara buka baut klep dibagian manifold dan baut klep dibagian filter. Setelah itu lepas selang bensin yang ada pada sisi sebelah kiri. Baru deh karbu digoyang-goyang dikit sambil didorong kekanan dan kekiri sampai karbu bisa lepas. (kalau mau lebih leluasa bisa copot tangki dulu). Oiya kalau mau lebih mudah, langsung aja buka manifoldnya, jadi karbu lebih mudha untuk dikeluarkan.
2. Siapkan Karbu PE 28. Pertama pasang dulu alumunium dibagian depan karbu (bagian yang masuk kemanifold) biar nanti kalau dipasang dimanifold gak oblak, karena moncong depan karbu ini lebih kecil daripada moncong karbu aslinya. Jadi daripada beli manifold khusus PE, mending bikin aja alumunium atau bisa juga pake selang bekas yang ukuran diameter dalamnya sama dengan moncong depan karbu PE ini.
Setelah itu lem dikit pake alteco biar gak ada kebocoran.
3. Copot manifoldnya, lalu tambahkan spacer didepan manifold, hal ini dimaksudkan agar saat pemasangan karbu, karbu PE ini tidak mentok pada dinamo, sehingga perlu spacer ini.Jadi posisinya kalau diurut dari depan : Silinder head (mesin) > Spacer > Manifold > Karbu > Filter. Oiya, siapkan baut 8mm dengan panjang sekitar 4cm (kalau baut aslinya kan cuma 2cm).
4. Setelah manifold + spacer terpasang, langkah selanjutnya adalah pemasangan Karbu PE. Gampang kok masangnya tinggal digoyang2 dikit sambil didorong2 sampe masuk aja ke lubang manifold. Btw, sebelumnya Karbu PE nya disetting dulu ya spuyernya. MJ/PJ aslinya sekitar 150/42. Kalo saya pake MJ rojokan (ukuran sekitar 130, nemu aja soalnya, hahhaa) trs PJ pake asli 42s.
5. Ok setelah karbu kepasang, tinggal sesuaiin kabel gasnya. Bisa pake Kabel gas aslinya, tapi ya kawat gasnya harus diganti yang lebih panjang. Jadi kabel gasnya tetep pake punya Pio, tapi kawat didalam kabel itu harus diganti yang lebih panjang. Posisi paling pas kabel ini adalah lewat dibawah tangki, kabel diletakkan tepat diatas rangka (tenang aja gak bakal kegencet tangki kok), trs kepala karbu tepat berada dibelakang Koil. Kalau selain posisi diatas dijamin gak bisa, kecuali karbu mau dimiring-miringkan.
6. Setelah semua kepasang, selanjutnya pasang filter belakang (kalau gak dipasang gpp sih, tapi kalau saya sayang skepnya, nanti baret, karbu mahal nih :p ).
7. Langkah terakhir adalah setel setelan anginnya, cari yang pas, sekitar 2 putaran. Gini cara setel anginnya : puter setelan angin ke kanan searah jarum jam (ni posisi nutup) ampe mentok trus tahan rpm di 3000rpm sambil setelan angin diputar ke kiri (berlawanan arah jarum jam, ni artinya ngebuka). Puter pelan2 ampe didapat putaran mesin tertinggi petama kali.
 
Ok, setelah pemasangan karbu selesai (dengan setting kecil-kecilan alias masih ngawur) saatnya dites. Kalau masalah akselerasi sih jangan ditanya lagi, jauh dari karbu standart. Putaran bawah sampai tengah meraung terus, cepet banget naiknya. Beda banget kalau dibandingin karbu standartnya (terang aja, lha wong vakum vs Skep, hehee). Tapi kalau putaran atas sih belum nyoba, belum dapet jalan yang panjaaaaang. Kalau kata orang sih karbu PE ini jelek diputaran atasnya, datar / flat aja, gak bisa naek.
 
Btw, saat ini masih pake Jetting MJ/PJ 130/42, katanya sih yang pas kisaran MJ 115-120 PJ 40-42. Putaran angin 1 1/4 – 2 1/2. Tapi ya kembali lagi ke motornya, apakah masih standart atau tidak. Untuk spek motor saya mesin masih standart, cuma pake CDI Tiger + knalpot freeflow R9.Yang dirasa saat ini sih belum maksimal, motor belum langsam, kalo diputaran bawah seperti ndut-ndutan. Busi hitam legam tanda bensin masih kebasahan. Belum sempet setting lagi sih, belum ada waktu, hehehe.
 
Okelah, nanti kalau saya sudah ganti jetting yang pas, saya update lagi.
 
#### UPDATE ####
yak sesuai janji, saya sudah ganti jetting yang pas (pas menurut saya).
ok, saat ini jetting ang saya gunakan adalah MJ/PJ 118/42 dengan putaran angin 3/4.
dengan spek sekarang sih rasanya udah pas, busi udah kecoklatan tanda jetting udah pas.
tarikan atas bawah dapat semua.
oke sekian dulu yaa..
 
18 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Desember 2011 in Yamaha SCORPIO

 
 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.